Senin, 07 Februari 2011

Sejarah Kaum Saba

Sejarah Kaum Saba

Sesungguhnya  bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan kiri (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun-kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Ats dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir." ( Qs. Saba' 15- 17).

Kaum Saba' adalah satu di antara empat peradaban besar yang hidup di Arabia Selatan. Ibukota dari Saba' adalah Ma'rib,  yang sangat makmur, berkat letak geografisr  yang sangat menguntungkan. Dan sistem pengairan mereka pun dimulai. Sebagaimana ditekankan dalam ayat di atas, kaum Saba'  yang hidup di suatu daerah yang ditandai dengan keindahan yang luar biasa, kebun-kebun anggur yang subur terletak di jalur perdagangan, negeri Saba'  memiliki standar kehidupan yang tinggi dan menjadi salah satu kota, yang terkenal di masa  itu.

Di sebuah negeri dengan standar kehidupan dan keadaan yang sangatlah bagus. Mereka memilih untuk mengakui kemakmuran negeri yang mereka miliki adalah kepunyaan mereka sendirl. Mereka merasa bahwa merekalah yang membuat semua keadaan yang luar biasa tersebut. Dan menurut ungkapan dalam ayat tersebut dikatakan, mereka "Berpaling dari Allah". Karena mereka mengaku bahwa semua kekayaan adalah milik mereka, maka mereka pun kehilangan semua yang mereka miliki.


Di dalam al-Qur'an, hukuman yang dikirimkan kepada kaum Saba' dinamakan "Sail al-Arim" yang berarti "Banjir Arim". Ungkapan yang digunakan dalam al-Qur'an juga menceritakan kepada kita bagaimana bencana ini terjadi. Dan kebun-kebun yang subur pun digantikan dengan buah-buahan yang terasa pahit (Atsi dan Sidr).

Kaum Saba' adalah kaum yang tidak mengindahkan seruan Allah untuk beriman kepada-Nya dan bersyukur kepada-Nya, akhirnya diazab dengan sebuah bencana seperti ini. Dari lubuk hati yang sangat dalam. Sehingga apa yang terjadi kepada kaum Saba', terjadi juga pada kita sekarang.

“Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. (QS Saba’ [34]: 15-19)
Kisah yang diceritakan di dalam surah ini terjadi setelah keislaman Ratu Balqis, yaitu setelah kaum Saba’ enggan bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang dikaruniakan kepada mereka.
Kisah ini diawali dengan cerita kesenangan dan kemewahan mereka dan bagaimana mereka diseru supaya bersyukur kepada Allah sebatas kemampuan upaya mereka:
“Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.’” (23)
Mereka tinggal di satu kawasan yang subur, dan sebagiannya masih ada hingga hari ini. Mereka telah mendaki tangga peradaban yang tinggi sehingga mereka dapat mengendalikan air-air hujan yang lebat yang mengalir dari sebelah laut di Selatan dan di Timur. Mereka telah membangun sebuah bendungan air alam yang diapit oleh dua buah bukit, dan di muka lembah di antara dua bukit itu mereka bangun sebuah pembendung yang bisa dibuka dan ditutup. Mereka dapat menyimpan air yang banyak di belakang bendungan itu dan mereka dapat mengendalikannya sesuai keperluan mereka. Dan dengan bendungan ini mereka mendapat persediaan air yang amat besar yang terkenal dengan nama Bendungan Saba’.
Kebun-kebun yang terletak di kanan dan kiri negeri itu melambangkan negeri yang subur, makmur, sejahtera dan penuh kenikmatan. Karena itu kebun-kebun itu merupakan bukti yang mengingatkan mereka kepada Allah Pemberi Yang Maha Pemurah. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” Mereka diperingatkan dengan nikmat negeri mereka yang makmur terutama nikmat ampunan Allah yang memaafkan kelalaian mereka dari bersyukur, serta kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan.
“(Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.”
Negeri mereka adalah sebuah negeri yang mendapat nikmat kemakmuran di bumi dan mendapat keampunan di langit. Oleh karena itu, apa yang menghalang mereka dari memuji dan bersyukur kepada Allah? Tetapi mereka tidak bersyukur dan tidak pula mengingati Allah:
“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.” (16)
Ini adalah catatan tertua yang secara pasti memberitakan adanya negeri Saba. Catatan kuno yang memberitakan kaum Saba menyatakan bahwa, sama halnya dengan bangsa Phunisia, mereka adalah negeri yang melakukan kegiatan perniagaan, dan sejumlah jalur perdagangan terpenting di utara Arab ada dalam kekuasaan mereka. Kaum Saba memanfaatkan letak ini dengan mendirikan bendungan seiring dengan pembangunan peradaban mereka, dan mulai mengairi wilayah tersebut. Pertanian menjadi makmur dan mereka pun menikmati kesejahteraan hidup yang tinggi.
Berkat bendungan dan sarana pengairannya, daerah ini terkenal sebagai yang terbaik pengairan dan kesuburannya di Yaman.
Penemuan arkeologis dan bukti sejarah benar-benar cocok dengan yang tertulis dalam Al Qur’an. Kaum tersebut mengabaikan peringatan nabi yang diutus kepada mereka, dan tidak mensyukuri nikmat Allah, akhirnya mereka dihukum dengan bencana mengerikan. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. Saba, 34:15-17)
Kaum Saba hidup di daerah sangat indah dengan perkebunan anggur dan kebun-kebun subur. Yang hanya perlu dilakukan kaum Saba dalam kelapangan ini adalah “memakan rezki yang dianugerahkan Tuhan mereka dan bersyukur kepada-Nya.” Tapi mereka tidak melakukannya, malahan, seperti yang dikatakan dalam sebuah ayat, “mereka berpaling dari Allah…”


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2011. Pendidikan Agama Islam | Pendidikan Sosial | Motivasi Pendidikan . All Rights Reserved
Home | Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Site map
Design by SmartBrains . Published by Zee